Patroli88investigasi
KUNINGAN, 5 September 2026 — Penjelasan Kepala DPUTR Kabupaten Kuningan mengenai perubahan Tugu Bola Dunia atau Tugu “Kuningan Bangkit” menjadi Tugu Patung Kuda di Jalan Ir. Soekarno dinilai belum menjawab persoalan substansial mengenai urgensi pembongkaran ikon tersebut.
Humas Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Santos Johar, menilai alasan pemerintah yang mengaitkan pembongkaran dengan arah dan akses menuju kawasan perkantoran Pemkab Kuningan dan Sekretariat Daerah justru terkesan dipaksakan.
«“Ini alasan yang terkesan dipaksakan karena sudah kehabisan alasan. Kalau alasannya cuma karena arah dan akses ke kantor Pemda dan Setda, lalu itu dijadikan alasan Tugu Bola Dunia atau Tugu Kuningan Bangkit dibongkar, itu sangat tidak logis. Lebih tepatnya ngeles, ingin bodor tapi tak lucu,” ujar Santos.»
Menurut Santos, persoalan arah, sirkulasi kendaraan, maupun akses menuju kawasan perkantoran pemerintah semestinya dapat diselesaikan melalui rekayasa lalu lintas dan penataan kawasan, bukan serta-merta dengan membongkar sebuah tugu yang telah menjadi bagian dari lanskap dan memori masyarakat.
«“Kalau memang persoalannya akses, ya yang diperbaiki aksesnya. Kalau persoalannya arah kendaraan, ya rekayasa lalu lintasnya. Jangan kemudian tugunya yang dikorbankan. Itu seperti menyelesaikan persoalan pintu dengan membongkar rumah,” katanya.»
Jangan setiap pergantian jargon diikuti bongkar ikon
FORMASI mempertanyakan apakah perubahan tersebut benar-benar didasarkan pada kajian teknis, tata ruang, lalu lintas, nilai sejarah, estetika kota, serta kepentingan publik, atau justru lebih banyak didorong oleh pergantian konsep dan jargon pembangunan.
Santos bahkan menawarkan alternatif sederhana agar perubahan slogan tidak harus berujung pada pembongkaran ikon daerah.
«“Kenapa tidak dibuat tulisan ASRI, BANGKIT, SAJATI kecil-kecil, sementara kata MELESAT dibuat besar-besar? Pak Dian sendiri kan ada di jajaran gambar atau slogan masing-masing. Jadi tidak harus setiap ganti jargon, tugunya ikut diganti,” ujarnya.»
Menurut dia, pemerintah perlu memahami bahwa sebuah tugu bukan sekadar konstruksi beton atau ornamen di tengah jalan. Ikon kota dapat memiliki nilai historis, identitas visual, serta memori kolektif masyarakat.
Karena itu, setiap perubahan terhadap simbol yang sudah dikenal publik semestinya dilakukan melalui pertimbangan yang matang, objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Belajar dari cara merawat sejarah
Santos mengibaratkan persoalan tersebut dengan cara bangsa ini memperlakukan peninggalan sejarah.
«“Kalau logika pembongkaran karena alasan penyesuaian zaman dan kebutuhan baru seperti itu dipakai, tentu Borobudur tidak perlu dipugar sehingga menjadi lebih indah dan terawat. Bisa saja ketika pemerintah berganti, bentuknya diganti dengan model lain karena dianggap tidak sesuai dengan konsep pemerintahan baru,” katanya.»
Ia menegaskan, perbandingan tersebut bukan untuk menyamakan kedudukan Tugu Bola Dunia dengan Candi Borobudur maupun Ka'bah, melainkan untuk menggambarkan prinsip bahwa simbol dan identitas yang telah melekat tidak semestinya dihapus hanya karena terjadi perubahan konsep atau kepemimpinan.
«“Begitu juga Ka'bah sebagai simbol kiblat umat Islam. Pergantian pemerintahan tidak berarti bentuk dan identitasnya kemudian diganti dengan bentuk lain hanya karena muncul jargon baru. Yang dilakukan adalah menjaga, merawat dan memperbaiki,” katanya.»
Menurut Santos, prinsip serupa semestinya dapat diterapkan terhadap ikon daerah.
«“Yang seharusnya dilakukan adalah memugar dan memperindah tanpa kehilangan nilai dan ruh historisnya,” tegasnya.»
Solusi: pertahankan dan revitalisasi, bukan bongkar
FORMASI menawarkan solusi yang dinilai lebih rasional. Tugu Bola Dunia tidak perlu dihilangkan. Bentuk dasarnya dapat dipertahankan, kemudian dilakukan revitalisasi secara menyeluruh agar tampil lebih modern, artistik, dan representatif.
«“Buat bentuknya tetap sama, tetapi diperindah. Kalau perlu pendekatannya seperti memperlakukan cagar budaya: nilai dan identitasnya dipertahankan, sementara fisiknya diperbaiki dan dipercantik,” ujar Santos.»
Jika pemerintah menganggap patung kuda penting sebagai simbol baru Kuningan, menurut FORMASI, hal itu tidak harus dilakukan dengan mengorbankan ikon lama.
«“Silakan bangun ikon kuda, tetapi cari lokasi yang tepat. Jangan seolah-olah untuk menghadirkan simbol baru harus menghapus simbol lama,” katanya.»
Dengan demikian, menurut Santos, Kuningan justru dapat memiliki dua identitas yang hidup berdampingan: Tugu Bola Dunia sebagai bagian dari memori dan perjalanan daerah, sementara patung kuda menjadi representasi baru yang ingin dibangun pemerintah.
Publik berhak mendapatkan kajian yang jelas
FORMASI juga meminta pemerintah membuka kepada publik seluruh dasar pengambilan keputusan terkait pembongkaran tersebut.
«“Pemerintah harus menjelaskan kajian teknisnya. Apa masalah sebenarnya dengan Tugu Bola Dunia? Apa hasil kajian lalu lintasnya? Apa urgensi pembongkarannya? Berapa biaya pembongkaran dan pembangunan kembali? Dan apa manfaat konkretnya bagi masyarakat?” kata Santos.»
Menurutnya, transparansi menjadi penting karena pembangunan maupun pembongkaran menggunakan uang publik.
«“Jangan sampai uang rakyat hanya digunakan untuk bongkar-pasang simbol karena perubahan selera atau jargon. Pemerintah harus membuktikan bahwa kebijakan tersebut memang kebutuhan publik, bukan sekadar keinginan pemerintah,” ujarnya.»
Santos menegaskan, kritik FORMASI bukan berarti menolak modernisasi ataupun pembangunan ikon baru. Yang dipersoalkan adalah cara pemerintah mengambil keputusan dan alasan yang digunakan untuk menghapus ikon yang sudah dikenal masyarakat.
«“Kuningan boleh melesat, tetapi jangan melesat dengan cara meninggalkan sejarahnya. Modernisasi tidak berarti menghapus masa lalu. Daerah yang maju justru adalah daerah yang mampu membawa sejarahnya masuk ke masa depan,” katanya.»
Ia pun kembali mempertanyakan urgensi pembongkaran tersebut.
«“Kalau bisa diperindah tanpa dibongkar, mengapa harus dibongkar?” pungkas Santos.»
