Pemerintah Kabupaten Banyumas mendorong transformasi besar-besaran di sektor pertanian, mengubah paradigma dari pertanian yang bergantung musim dan kebiasaan, menuju agri-industri yang tidak lagi terikat cuaca, melainkan berjalan layaknya industri: cepat, terukur, dan berkelanjutan. Langkah konkret dimulai dari Program G10T (Gerakan Tanam 10 Hari Setelah Panen) di Kecamatan Jatilawang, yang direncanakan menyebar ke 10 kecamatan dengan luas lahan lebih dari 1.000 hektar.
Dua Kendala Utama Pertanian Tradisional
Selama ini pertanian selalu terbelenggu dua hal: ketergantungan pada musim dan ketergantungan pada kebiasaan. Saat musim hujan petani menanam, saat kemarau lahan bera. Jika kemarau panjang, masa tanam makin pendek dan produktivitas anjlok. Di samping itu, petani masih banyak berpegang pada kebiasaan turun-temurun, bukan pada kebutuhan pasar dan teknologi.
Kini pola pikir itu diubah: "On-season anytime" pertanian tidak boleh lagi menunggu musim. Setiap saat bisa tanam, setiap saat bisa panen. Tantangannya bukan pada teknologi semata, melainkan manajerial. Kelompok tani belum mampu menanam komoditas yang sama secara serentak dan berirama. Di sinilah BUMDes didorong menjadi ujung tombak, karena dinilai lebih unggul secara manajerial dan berbasis bisnis.
Program G10T: Panen–Olah–Tanam dalam 10 Hari
Pilot project dimulai di Kecamatan Jatilawang, tepatnya Desa Tinggarjaya, yang menjadi desa pertama merespons positif setelah sosialisasi ke 10 kecamatan dengan lahan di atas 1.000 hektar. Program ini mempersyaratkan kesiapan pola pikir Kepala Dinas, Camat, dan terutama Kepala Desa. Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sangat krusial untuk meyakinkan warga.
Mekanisme G10T berjalan berantai tanpa jeda:
1. Panen menggunakan mesin panen
2. Pengolahan tanah langsung diikuti rotavator dan traktor roda empat
3. Penyemprotan pembenah tanah dilakukan bersamaan menggunakan drone
4. Tanam kembali dalam kurun waktu maksimal 10 hari
Kendala awal sempat terjadi pada proses persemaian yang berjalan lambat ini menjadi catatan perbaikan. Namun visi dinilai sudah benar dan menjadi bukti nyata bagi daerah lain yang masih meyakini tanah butuh istirahat 14 hari hingga sebulan. Untuk mempercepat proses, UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan) dikerahkan sebagai brigade khusus pendukung swasembada pangan, mengisi kekosongan jika traktor kelompok tani belum siap. Program ini kemudian mulai menular ke desa-desa lain di Jatilawang, termasuk Gentawangi.
SOP Industri, Keuntungan Nyata & Jaminan Perlindungan
Dalam konsep agri-industri, seluruh proses memiliki SOP baku, termasuk tim khusus penanganan hama dan tikus. BUMDes berperan sebagai off-taker, menjamin pembelian hasil panen. Secara hitungan ekonomi, keuntungan sangat nyata: dengan penggunaan pupuk non-subsidi, produksi padi mencapai 8,5–9 ton per hektar. Biaya air irigasi sekitar biaya penyediaan air dr awal hingga panen kurang lebih 7 jt ekivalen 1 ton, biaya operasional ekivalen 2.5 ton. Diperkirakan ada keuntungan bersih 5 ton per ha dengan model kolaborasi inovasi.
Saat petani lain berhenti tanam di musim kemarau, pelaksana G10T tetap berproduksi dan menjual saat harga gabah mencapai Rp7.500 per kilogram, menghasilkan keuntungan berlipat. Agar petani makin berani beralih, program ini juga dilengkapi dengan asuransi pertanian sebagai jaminan perlindungan risiko. Konsep agri-industri tidak bisa berdiri sendiri harus bekerja sama dengan lembaga pendanaan, pihak asuransi, penyedia sarana produksi, dan pasar. Kolaborasi dan inovasi menjadi fondasi utama.
Camat dan Kades Jadi Motor Perubahan
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buono, S.T., M.M., ketika ditemui di kantornya pada Rabu (19/8), menyampaikan bahwa optimalisasi pemanfaatan lahan dan waktu menjadi kunci utama dalam transformasi pertanian di Kabupaten Banyumas. Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, peran Camat dan Kepala Desa dinilai sangat vital sebagai motor penggerak perubahan, agar pertanian yang semula berbasis agrikultur dapat bertransformasi menjadi agri-industri yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
"Kita butuh tiga hal untuk menjawab tantangan iklim: teknologi, manajemen yang baik, dan kepemimpinan yang kuat di lapangan. Tanpa kepemimpinan Camat dan Kades, program modernisasi pertanian akan berat berjalan di tempat."
Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) memang sangat sentral, namun beban kerjanya cukup berat satu orang PPL membina hingga empat desa. Modernisasi pertanian tidak bisa hanya dibebankan kepada PPL semata. Tanpa dukungan penuh dari Camat dan Kepala Desa, beban tersebut akan terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Oleh karena itu, program ini sengaja diluncurkan untuk membangun pemahaman baru khususnya kepada para Camat dan Kepala Desa tentang pentingnya beradaptasi terhadap perubahan iklim serta pergeseran pola pikir dari pertanian tradisional menuju agri-industri.
"Kami ingin para Camat dan Kades memahami: bahwa pertanian sudah berubah. Musim sudah tidak lagi pasti. Maka cara bertani pun harus berubah dengan teknologi, manajemen, dan kepemimpinan yang sama-sama maju. Kalau pemimpinnya sudah paham dan mau bergerak, petani pasti akan mengikuti."
By Pao


