KUNINGAN - PATROLI88INVESTIGASI.COM,- Suasana hangat penuh keakraban menyelimuti rombongan Gerakan KITA saat memulai perjalanan Wisata Religi Bersama yang digelar pada Sabtu-Minggu, 20–21 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 65 peserta ini bukan sekadar perjalanan ziarah, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai spiritual, serta menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Menggunakan satu unit bus, rombongan berangkat dari pelataran Masjid Syiarul Islam Kuningan usai menunaikan salat Isya. Sebelum memulai perjalanan ke luar daerah, peserta terlebih dahulu melakukan ziarah ke Makam Pangeran Arya Kamuning yang berada di kawasan Makam Gede Kuningan.
Selama dua hari perjalanan, peserta mengunjungi lima lokasi ziarah, yaitu makam Pangeran Arya Kamuning di Kuningan, makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, makam Al Habib bin Abdullah bin Thalib Al Aththos di Pekalongan, kawasan Makam Sapuro di Pekalongan, serta makam Syekh Maulana Samsuddin di Pemalang.
Bagi sebagian peserta, perjalanan ini bukan hanya tentang mengunjungi makam para ulama dan tokoh penyebar Islam. Di sepanjang perjalanan, mereka berbagi cerita, pengalaman hidup, dan pelajaran berharga yang memperkuat rasa persaudaraan di antara sesama peserta.
Koordinator kegiatan sekaligus pengurus Gerakan KITA, Ridho Fauji, mengatakan bahwa kegiatan Wisata Religi Bersama kali ini dibuka untuk masyarakat umum agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
"Selain untuk memperkuat tali silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar kami menyambut Tahun Baru 1448 Hijriah. Kami ingin mengajak masyarakat untuk mengawali tahun baru Islam dengan memperbanyak refleksi, memperkuat hubungan sosial, dan mendekatkan diri kepada Allah," ujar Ridho.
Menurutnya, wisata religi memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar perjalanan biasa. Selain mengenang perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam, kegiatan tersebut juga menjadi sarana belajar tentang nilai-nilai keteladanan, pengabdian, dan kepedulian sosial.
Ridho menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu program rutin bidang keagamaan Gerakan KITA. Selain wisata religi, komunitas tersebut juga secara berkala menggelar kegiatan Ngopi Perkara Iman (NGOPI) sebagai wadah diskusi keagamaan dan penguatan nilai-nilai kebersamaan.
"Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi sarana untuk menimba ilmu agama sekaligus belajar tentang kehidupan sosial kemasyarakatan. Karena pada dasarnya, agama tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia," katanya.
Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan modern yang sering membuat hubungan sosial menjadi renggang, kegiatan semacam ini dinilai penting untuk menjaga semangat persaudaraan dan kebersamaan. Perjalanan yang ditempuh berjam-jam justru menjadi ruang yang mempererat ikatan antaranggota dan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang.
Ke depan, Gerakan KITA berharap kegiatan serupa dapat melibatkan lebih banyak elemen masyarakat dan komunitas lainnya.
"Kami ingin semakin banyak komunitas yang bisa bergabung dalam kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Ketika silaturahmi semakin luas, maka kebaikan, ilmu, dan manfaat yang diperoleh juga akan semakin menyebar. Pada akhirnya, yang ingin kita bangun adalah persaudaraan yang kuat dan kebermanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat," tutur Ridho.
Bagi Gerakan KITA, perjalanan religi ini bukan sekadar menempuh jarak dari satu kota ke kota lainnya. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ikhtiar bersama untuk merawat persaudaraan, meneladani jejak para ulama, serta mengisi pergantian tahun Hijriah dengan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
/Moris



