CIAMIS- Patroli88investigasi.com Perayaan Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 seharusnya menjadi panggung kebersamaan bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Namun, kemeriahan peringatan tahun ini menyisakan pertanyaan yang layak dijawab bersama: mengapa anak-anak berkebutuhan khusus tidak mendapatkan kesempatan tampil dalam rangkaian acara resmi yang dihadiri Bupati?
Hal itu diungkapkan guru SLB Negeri Sindangsari Cikoneng Kabupaten Ciamis, Asri Nurrahma Rostila pada Kamis, 11 Juni 2026. "Ini menjadi catatan khusus bagi kami yang sehari-hari bersentuhan dengan anak berkebutuhan khusus," ujar Asri.
Menurut Asri, pertanyaan ini bukan sekadar soal siapa yang naik panggung dan siapa yang tidak. Lebih dari itu, ini menyangkut bagaimana pemerintah daerah memaknai inklusi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.
"Selama ini, pemerintah sering menyampaikan komitmen untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif. Berbagai program pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas terus digaungkan. Namun, komitmen tersebut akan kehilangan makna apabila tidak tercermin dalam ruang-ruang publik yang paling terlihat, termasuk pada perayaan hari jadi daerah di Kabupaten Ciamis," ujarnya.
Dikatakan Asri, anak-anak berkebutuhan khusus bukan kelompok yang perlu dikasihani. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki bakat, kreativitas, dan kemampuan yang layak diapresiasi. Banyak di antara mereka yang mampu menampilkan seni tari, musik, menyanyi, hingga berbagai keterampilan lain yang tak kalah membanggakan dibanding anak-anak pada umumnya.
"Karena itu, absennya mereka dari panggung perayaan HUT Ciamis menimbulkan kesan bahwa kelompok ini masih ditempatkan di pinggir, bukan di tengah kehidupan sosial masyarakat. Padahal, esensi pembangunan modern bukan hanya membangun jalan, gedung, atau infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ruang sosial yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga.
Tentu tidak ada yang menuduh adanya diskriminasi yang disengaja. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena kurangnya perhatian, minimnya koordinasi, atau sekadar luput dari perencanaan panitia. Namun justru di situlah letak persoalannya. Ketika kelompok rentan selalu terlewat dalam perencanaan, maka eksklusi terjadi bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidakpekaan.
Momentum HUT ke-384 semestinya menjadi refleksi bagi Pemerintah Kabupaten Ciamis. Jika daerah ini ingin dikenal sebagai kabupaten yang maju dan berkeadilan, maka ukuran keberhasilannya bukan hanya penghargaan yang diraih atau proyek yang dibangun, melainkan sejauh mana seluruh warganya merasa diakui dan dilibatkan.
Ditambahkan Asri, anak-anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan.
"Mereka membutuhkan kesempatan. Dan kesempatan itu seharusnya hadir di panggung yang sama, di hadapan publik yang sama, dalam perayaan yang mengatasnamakan seluruh masyarakat Ciamis," ujar Asri.
Sebab sebuah perayaan daerah baru benar-benar bermakna ketika tidak ada satu pun warganya yang merasa tertinggal atau ditinggalkan.
Yeyep arip

