I Dewa Nyoman Budiasa Didaulat Bapak Budaya Nusantara Pulau Dewata

Patroli88investigasi
0






Patroli88investigasi.
com|DENPASAR.

Bagi I Dewa Nyoman Budiasa, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan ruang hidup tempat manusia saling berjumpa, saling memahami, dan saling merawat. Sebagai putra Bali, ia meyakini bahwa kekuatan budaya selalu berangkat dari akar lokal, namun tidak pernah berhenti pada batas-batas sempit kedaerahan.

Pandangan itu ia sampaikan dalam Pagelaran Budaya Nusantara yang digelar di Istana Taman Jepun, Denpasar Timur, pada Minggu malam awal Januari. Acara yang dihadiri 139 orang dari berbagai latar belakang tersebut menjadi ruang perjumpaan hangat antarbudaya Nusantara.

Malam itu, Reog Ponorogo dan Jaranan dari Jawa Timur tampil di hadapan masyarakat Bali. Bagi Budiasa—yang akrab disapa Ajik DNB—penampilan tersebut bukanlah pertemuan dua budaya yang terpisah, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang hubungan Bali dan Jawa yang telah membentuk wajah kebudayaan Nusantara hingga hari ini.

“Sejak dahulu, Bali tumbuh dari perjumpaan,” ujarnya. “Keterbukaan adalah bagian dari jati diri kami.”

Ia mengingatkan bahwa Bali tidak pernah berkembang dalam ruang yang tertutup. Jejak hubungan historis dengan Jawa, terutama sejak masa Majapahit, telah memberi warna pada seni, ritus, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali yang masih hidup dan dijaga hingga kini. Karena itu, menghadirkan kesenian Jawa di Bali justru menjadi penegasan atas watak Bali yang inklusif dan terbuka.

Cara pandang tersebut pula yang mendasari peran Budiasa sebagai pembina Yayasan Duwe Nyama Bali (DNB). Melalui yayasan ini, ia mendorong kegiatan kebudayaan yang berangkat dari kekuatan lokal Bali, namun tetap membuka ruang dialog dengan kebudayaan Nusantara lainnya. Baginya, kebudayaan adalah jembatan paling alami untuk merawat persatuan dalam keberagaman.

Menurutnya, rasa kebangsaan tidak lahir dengan menghapus identitas daerah, melainkan melalui proses saling mengenal, saling menghormati, dan saling merayakan perbedaan. Dalam konteks inilah kebudayaan menemukan makna terdalamnya.

Istana Taman Jepun, yang berada di tengah Kota Denpasar, dipandangnya sebagai simbol ruang publik yang hidup—tempat budaya Bali berpijak kuat, namun tetap memberi ruang bagi tradisi lain untuk hadir dan berdialog.

Menjelang akhir acara, percakapan antarpengunjung masih terus berlangsung, menandai bahwa perjumpaan budaya malam itu tidak berhenti di atas panggung, tetapi berlanjut dalam kesadaran bersama.

Bagi Ajik DNB, keberhasilan pagelaran ini terletak pada satu pemahaman sederhana namun mendalam: merawat budaya Bali berarti merawat Indonesia, karena keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.

“Dari Bali, kita belajar tentang Indonesia,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan konsistensinya dalam merawat dan menyatukan kebudayaan Nusantara, I Dewa Nyoman Budiasa didaulat sebagai Bapak Budaya Nusantara Pulau Dewata oleh para seniman dan budayawan yang hadir malam itu.

Sebuah pengakuan yang lahir bukan dari seremoni semata, melainkan dari perjalanan panjang pengabdian pada kebudayaan sebagai ruang persaudaraan.

(red/degading) 

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)